EKOWISATA
Ekowisata atau ekoturisme merupakan salah satu kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial budaya ekonomi masyarakat lokal serta aspek pembelajaran dan pendidikan.
Ekowisata dimulai ketika dirasakan adanya dampak negatif pada
kegiatan pariwisata konvensional. Dampak negatif ini bukan hanya
dikemukakan dan dibuktikan oleh para ahli lingkungan tapi juga para
budayawan, tokoh masyarakat dan pelaku bisnis pariwisata itu sendiri.
Dampak berupa kerusakan lingkungan, terpengaruhnya budaya lokal secara
tidak terkontrol, berkurangnya peran masyarakat setempat dan persaingan
bisnis yang mulai mengancam lingkungan, budaya dan ekonomi masyarakat
setempat.
Pada mulanya ekowisata dijalankan dengan cara membawa wisatawan ke
objek wisata alam yang eksotis dengan cara ramah lingkungan. Proses
kunjungan yang sebelumnya memanjakan wisatawan namun memberikan dampak
negatif kepada lingkungan mulai dikurangi.
Sejarah
Kegiatan ekowisata yang pertama barangkali adalah kegiatan safari
(berburu hewan di alam bebas) yang dilakukan oleh para petualang dan
pemburu di Afrika. Kegiatan ini marak pada awal 1900. Dan pemerintahan
Kenya mengambil kesempatan dan membuka peluang bisnis dari kegiatan
safari ini. Pemerintah Kenya yang baru merdeka, dengan sumber daya flora
dan fauna yang dimilikinya menjual kegiatan petualangan safari kepada
para pemburu yang ingin merasakan sensasi padang safana dan mamalia
Afrika yang liar dan eksotis. Pemerintah Kenya menjual satu ekor singa
sebagai buruan seharga US$27.000 pada tahun 1970. Namun akhirnya
disadari bahwa perburuan yang tidak terkendali dapat mengakibatkan
kepunahan spesies flora atau fauna dan mengganggu keseimbangan ekosistem
yang ada. Belajar dari pengalaman ini, pemerintah Kenya akhirnya
melakukan banyak perubahan didalam pelaksanaan kegiatan safari dan mulai
menerapkan konsep-konsep ekowisata modern didalam industri pariwisata.
Pada akhir dekade 1970 gagasan ekowisata mulai diperbincangkan dan
dianggap sebagai suatu alternatif kegiatan wisata tradisional. Selama
masa 1980-an beberapa badan dunia, peneliti, pencinta lingkungan,
ahli-ahli dibidang pariwisata dan beberapa negara mulai mencoba
merumuskan dan mulai menjalankan kegiatan ini dengan caranya
masing-masing.
Rumusan ekowisata pernah dikemukakan oleh Hector Ceballos-Lascurain
pada tahun 1987 sebagai berikut: "Ekowisata adalah perjalanan
ketempat-tempat yang masih alami dan relatif belum terganggu atau
tercemari dengan tujuan untuk mempelajari, mengagumi dan menikmati
pemandangan, flora dan fauna, serta bentuk-bentuk manifestasi budaya
masyarakat yang ada, baik dari masa lampau maupun masa kini", bagi
kebanyakan orang, terutama para pencinta lingkungan, rumusan yang
dikemukakan oleh Hector Ceballos-Lascurain tersebut belumlah cukup untuk
menggambarkan dan menerangkan kegiatan ekowisata. Penjelasan di atas
dianggap hanyalah penggambaran dari kegiatan wisata alam biasa. Rumusan
ini kemudian disempurnakan oleh The International Ecotourism Society
(TIES) pada awal tahun 1990, sebagai berikut: "Ekowisata adalah kegiatan
wisata alam yang bertanggung jawab dengan menjaga keaslian dan
kelestarian lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan penduduk
setempat”. Penjelasan ini sebenarnya hampir sama dengan yang diberikan
oleh Hector Ceballos-Lascurain yaitu sama-sama menggambarkan kegiatan
wisata di alam bebas atau terbuka, hanya saja menurut TIES dalam
kegiatan ekowisata terkandung unsur-unsur kepedulian, tanggung jawab dan
komitmen terhadap keaslian dan kelestarian lingkungan serta
kesejahteraan masyarakat setempat. Ekowisata merupakan upaya untuk
memaksimalkan dan sekaligus melestarikan potensi sumber daya alam dan
budaya masyarakat setempat untuk dijadikan sebagai sumber pendapatan
yang berkesinambungan.
Pada awal 1980-an, Costarica dipilih oleh badan dunia PBB sebagai
proyek percontohan kegiatan ekowisata. Belajar dari pengalaman di Kenya,
di Costarica pelaksanaan kegiatan ini melibatkan berbagai pihak, yaitu:
pemerintah, swasta, masyarakat dan badan lingkungan hidup
international. Proyek ini kemudian dinilai berhasil dan menjadi contoh
bagi pelaksanaan kegiatan ekowisata diseluruh dunia.
Perkembangan ekowisata di dunia secara umum terasa cukup cepat dan
mendapat prioritas dan perhatian dari pemerintahan masing-masing negara
yang melaksanakannya. Walaupun dimulai dari Afrika, ekowisata berkembang
pesat dan berevolusi secara menakjubkan justru di Amerika Latin.
Di beberapa negara Amerika Latin (terutama yang dialiri oleh sungai
Amazon), kegiatan mengunjungi objek wisata alam berkembang menjadi
kegiatan penyelamatan lingkungan hidup (konserfasi). Seiring dengan
berjalannya waktu, ternyata banyak peserta ekowisata yang tertarik dan
ingin berkontribusi didalam penyelamatan alam (flora dan fauna) dari
kerusakan yang semakin parah. Beberapa lembaga atau organisasi yang
bergerak dibidang lingkungan hidup menangkap peluang ini dan mulai
mengadakan kegiatan reboisasi beserta dengan masyarakat luas termasuk
peserta ekowisata, hingga kepada penggalangan dana dan penanaman pohon
yang dapat diikuti melalui media internet.
Keaneka ragaman hayati di aliran sungai Amazon juga membuka peluang
bagi kegiatan penelitian (yang semula tertutup) menjadi sebuah
penelitian yang sifatnya terbuka dan bisa diikuti oleh wisatawan dengan
kriteria tertentu. Kegiatan penelitian berupa pendataan spesies dan
dampak kerusakan lingkungan, saat ini telah menjadi salah satu paket
kegiatan ekowisata.
Kehidupan suku terasing Indian dengan budayanya yang unik dan
menghormati lingkungan di aliran sungai Amazon juga mengundang daya
tarik wisatawan yang kemudian menjadi peluang yang di organisir oleh
masyarakat, biro wisata dan pemerintah untuk menarik wisatawan agar mau
menetap untuk belajar dan mengetahui lebih lanjut kehidupan dan budaya
dari masyarakat Indian.
Belajar dari kesalahan-kesalahan terdahulu yang menyebabkan dampak
rusaknya lingkungan, pemerintah Costa Rica memobilisasi masyarakatnya
untuk berperan aktif dalam kegiatan ekowosata. Tidak ada hotel
berbintang dan bandara international yang dibangun di dekat objek wisata
alam. Yang ada adalah rumah-rumah masyarakat yang terbuka untuk
ditinggali sementara oleh para wisatawan (sekarang disebut home stay
atau rumah singgah). Masyarakatpun tidak menyediakan menu masakan
international kepada para wisatawan, mereka menyuguhkan masakan
tradisional dengan standar kebersihan yang tinggi. Pemerintah Costarica
yakin bahwa peserta ekowisata bukan hanya tertarik kepada eksotisme alam
dari negaranya, tetapi juga tertarik kepada eksotisme kebudayaan dan
cara hidup masyarakatnya.
Di Afrika, evolusi kegiatan ekowisata menarik untuk dicermati.
Kegiatan perburuan binatang (singa, kerbau, gajah, badak dan lain
sebagainya) yang sebelumnya dianggap dapat mengganggu kelestarian suatu
spesies ternyata kalau dilakukan secara selektif justru dapat
meningkatkan populasi spesies tersebut atau spesies yang lainnya.
Kesimpulan ini didapatkan dari kenyataan yang ada bahwa banyak kelompok
keluarga singa yang didominasi oleh jantan yang sudah tua berhenti
berkembang biak dan tidak lagi melahirkan anak-anak singa yang baru.
Ternyata hal ini diakibatkan oleh kualitas sperma yang dimiliki oleh si
jantan yang telah tua sudah tidak baik lagi (mandul) atau tidak lagi
memiliki birahi yang tinggi. Membunuh singa jantan yang tua ternyata
membuka peluang bagi singa jantan yang muda, sehat dan produktif untuk
meminpin kelompok tersebut dan kembali meneruskan garis keturunannya.
Semenjak itulah kegiatan perburuan singa dan beberapa spesies lainnya
mulai diadakan kembali di Kenya, tentunya dengan spesfikasi dan
pengawasan yang ketat dari petugas taman nasional.
Ekowisata di Indonesia
Di Indonesia kegiatan ekowisata mulai dirasakan pada pertengahan
1980-an, dimulai dan dilaksanakan oleh orang atau biro wisata asing,
salah satu yang terkenal adalah Mountain Travel Sobek – sebuah biro
wisata petualangan tertua dan terbesar. Bebepa objek wisata terkenal
yang dijual oleh Sobek antara lain adalah pendakian gunung api aktif
tertinggi di garis khatulistiwa - Gunung Kerinci (3884 m), pendakian danau vulkanik tertinggi kedua di dunia - Danau Gunung Tujuh dan kunjungan ke danau vulkanik terbesar didunia - Danau Toba.
Beberapa biro wisata lain maupun perorangan yang dijalankan oleh
orang asing juga melaksanakan kegiatan kunjungan dan hidup bersama
suku-suku terasing di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi dan Papua.
Salah satu dari proyek ekowisata yang terkenal yang dikelola
pemerintah bersama dengan lembaga asing adalah ekowisata orang hutan di Tanjung Puting, Kalimantan.
Kegiatan ekowisata di Indonesia diatur Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 33 Tahun 2009.
Secara umum objek kegiatan ekowisata tidak jauh berbeda dari kegiatan
wisata alam biasa, namun memiliki nilai-nilai moral dan tanggung jawab
yang tinggi terhadap objek wisatanya.
- Wisata pemandangan:
- Objek-objek alam (pantai, air terjun, terumbu karang)
- Flora (hutan, tumbuhan langka, tumbuhan obat-obatan)
- Fauna (hewan langka dan endemik)
- Perkebunan (teh, kopi)
- Wisata petualangan:
- Kegiatan alam bebas (lintas alam, berselancar)
- Ekstrem (mendaki gunung, paralayang)
- Berburu (babi hutan)
- Wisata kebudayaan dan sejarah:
- Suku terasing (orang Rimba, orang Kanekes)
- Kerajinan tangan (batik, ukiran)
- Peninggalan bersejarah (candi, batu bertulis, benteng kolonial)
- Wisata penelitian:
- Pendataan spesies (serangga, mamalia dan seterusnya)
- Pendataan kerusakan alam (lahan gundul, pencemaran tanah)
- Konservasi (reboisasi, lokalisasi pencemaran)
- Wisata sosial, konservasi dan pendidikan:
- Pembangunan fasilitas umum di dekat objek ekowisata (pembuatan sarana komunikasi, kesehatan)
- Reboisasi lahan-lahan gundul dan pengembang biakan hewan langka
- Pendidikan dan pengembangan sumber daya masyarakat di dekat objek ekowisata (pendidikan bahasa asing, sikap)
post by: wikipedia indonesia (id.wikipedia.org)
Komentar
Posting Komentar